"If Nothing Ever Changed, There'd Be No Butterflies."

December 29, 2011

Tantangan Cerpen Tanpa Dialog : Nebel in the Ocean



Aku meneguk secangkir kopi di bawah rona matahari lavender. Entah apa yang aku lakukan di antara hiruk pikuk ini. Aku merasa sangat sendiri di sudut bagian duniaku yang masih tersisa kini.
  Aku kembali menatap dunia itu melalui jendela di sampingku, ia membingkai tiap jengkal panorama yang tak ingin kulepaskan. Di sana dulu masih dapat kulihat pantai dengan latar belakang laut biru yang berkilau, dan senyumannya yang menghentikan aliran waktu membekas selalu. Ia yang tercantik dari seluruh pemandangan Langit-Bumi.
  Kupenjamkan mataku untuk melihat kembali semuanya yang dulu masih dapat kulihat meski tak harus dengan mata tertutup. Di jengkal goresan kenanganku, ia masih disitu.

***

Aku adalah lantunan melodi ringan dari tanah Eden
Jiwa yang keras terbelenggu rantai ribuan zaman
Jatuh cinta pada angin
Belenggu ini semakin erat mengikat
Perasaan yang bimbang ini
Mencampakkanku
Ke sungai beku jutaan tahun
Jatuh cinta pada angin
Aku hilang dalam derai musik
Roda-roda waktu yang terhampar di jutaan musim

 Bahkan suaranya membuat angin menjadi tenang. Ia mengusik langit malam dengan alunan yang memanjakan. Aku mengenal seluruh Langit dan Bumi, dan aku mengenalnya. Nebel, Sang Penjaga Kuil Neptunus.
 Ketika kereta kencanaku menembus awan berarak dan menukik semakin rendah menuju laut, ia seketika menghentikan lantunannya. Kilauan para peri laut Thetis mengelilingi dia yang duduk tenang di atas singgasana karang yang putih tulang, ekornya yang keperakan menyentak menciptakan bulir air memercik dan terciptalah para Thetis dari bulir-bulir air itu. Cahaya mereka di sekelilingnya membuat ia lebih berkilau dari bintang.
 Ia tersenyum dan menunduk sedikit, memberi penghormatan dengan cara yang dapat membuat jantungku bertalu keras. Pertama kalinya aku dan dia bertegur sapa, aku tak pernah menyadari bahwa dialah satu-satunya makhluk Bumi yang dapat menggerakkan hatiku.


Kembali kurasakan detakan waktu melambat ketika kutahu bahwa ia telah mengakibatkan keributan besar di lantai langit.
Dia adalah gadis yang paling berani yang pernah kutahu, sebab dengan status sebagai penjaga kuil saja ia telah secara terang-terangan menentang takdir dari Langit. Ia mencuri senjata trisula Neptunus untuk meredam tsunami besar yang seharusnya menenggelamkan seluruh Bumi. Meski ia tak dapat menyelamatkan Atlantis, namun separuh dunia bergerak maju tanpa henti karena keberaniannya itu.
Pembuangan di sudut Neraka adalah tempat bagi yang membelokkan takdir. Tak mungkin kubayangkan saat-saat ia jadi abu di tempat mengerikan itu. Dan satu langkah yang kulakukan tanpa berpikir untuk pertama kalinya adalah menyelamatkan dia dari hukumannya. Melarikannya dengan bantuan dua pengawal setiaku, Fobos dan Deimos.


Melarikan diri dari ribuan tentara Jupiter—Raja para Dewa—adalah kesia-siaan, kedua pengawal setiaku mengingatkan setiap detik. Aku tak mendengarkan mereka, hingga aku tahu bahwa mereka benar. Bahkan dengan kekuasaanku, aku tak sanggup lari dari takdir Langit dan Bumi. Aku bersalah sepenuhnya saat hukumannya menjadi lebih berat karena melarikan diri dan jatuh cinta padaku.
 Aku merasa menjadi makhluk terlemah karena memikirkannya. Kubiarkan diriku tenggelam dalam keputusan pengadilan langit. Inilah titik terlemahku ketika aku tak dapat berbuat apa pun untuk menyelamatkannya sekali lagi. Saat para petinggi di lantai langit mengemukakan pendapat dan bergerak untuk melaksanakannya, aku hanya bisa terdiam menerima hukumanku.
 Aku akan manerima hukuman apa pun, kecuali melihatnya menjadi abu di Neraka. Lalu ketika Venus sekilas melirik ke arahku dalam persidangan itu, segera pikiranku seperti disirami embun pagi dari Kerajaan Pelangi.

***

Aku tersentak oleh sapaan seorang pelayan café yang menanyakan apakah aku ingin memesan yang lainnya selain kopi. Aku hanya menggeleng dan kemudian membiarkan ia pergi.
Lamunanku tentang kenangan masa lalu itu buyar sudah. Kuhembuskan nafas, kurasakan aliran udara memenuhi paru-paru dan aliran darah yang berdenyut-denyut di nadiku. Raga manusia ini terasa begitu rapuh.
Kualihkan pandangan keluar jendela. Ia membingkai langit dan matahari keunguan yang mengambang di awan kelam. Aku beranjak dari kursiku, melangkah keluar café.
Dan, pandanganku seketika tersudut pada sosok yang selalu dapat menghentikan aliran waktuku. Dia, di toko bunga di seberang jalan itu. Tak berubah sedikit pun. Kulitnya putih seperti salju, matanya sebiru lautan menenggelamkan, rambutnya tergerai ikal keemasan, ia seperti roh lautan yang tersesat di daratan.
Kucoba tenangkan detak jantungku yang tak henti menggenderang. Dia adalah satu-satunya makhluk dunia yang membuatku tak dapat berpikir, hingga pertamakalinya aku memohon untuk satu nyawa. Kala itu kumohon bantuan pada Venus agar menyelamatkannya dari hukuman terasing di dalam penjara api yang menyiksa, mengingat bahwa ia tak pantas menjadi abu di Neraka karena telah menyelamatkan manusia dari bencana besar, karena aku melarikannya dari hukuman, karena ia mencintaiku. Dan ia pun dilempar ke dunia manusia untuk satu karmanya.  Terlahir sebagai manusia yang baru tanpa segala ingatan kehidupannya terdahulu.
Sementara itu untuk menebus segala kesalahanku, saat ini aku harus menjalani hukuman dari langit, terkurung di dalam raga manusia biasa ini. Dan apabila aku mengulangi kesalahan yang sama—menentang takdir Langit-Bumi, maka dia akan berakhir sebagai kabut di atas hamparan lautan yang dikuasai Neptunus dan aku akan menjadi makhluk tak berguna yang terbuang.
 Hampa ini terlalu dalam ketika aku kini berdiri di hadapannya namun hanya dapat melihatnya saja. Seolah ada lubang kosong di dadaku kala kuingat bahwa ia telah melupakan aku dan kenangan yang pernah ada di dalam dirinya dulu, bahwa ia  sejak dulu tak pernah mengetahui siapa aku sesungguhnya, dan bahwa ia mungkin tak pernah tahu betapa aku juga mencintainya.
Seekor kupu-kupu melewatiku. Menyadarkan aku bahwa langkahku telah semakin dekat ke arahnya, sang gadis penjual bunga. Kutatap kupu-kupu itu terbang semakin tinggi ke langit, makhluk cantik itu digunakan Venus sebagai matanya untuk mengawasi segala kejadian di seluruh dunia. Aku tersenyum hambar, mengerti bahwa Venus tak pernah berhenti mengawasiku.
Selain Fobos dan Deimos, Sang Dewi Cinta Venus adalah yang selalu mengingatkanku agar tak melakukan kesalahan lagi. Mereka mungkin sedikit yang tak ingin seorang Dewa Perang Mars meringkuk di sudut Neraka karena membelokkan takdir, melakukan tindakan bodoh karena mencintai manusia biasa atau makhluk indah dari Kuil Neptunus.[]

November 28, 2011

Fiction Competition 2011/2012


Dalam rangka memperkenalkan dumalana.com , bersama Dumala Pustaka Publisher Dumalana mengadakan Fiction Competition 2011/2012. Lewat lomba ini, para penulis diundang mengikuti lomba penulisan dalam blog dumalana.
Dumalana menyediakan hadiah berupa uang  senilai total Rp 11.250.000 (sebelas juta dua ratus lima puluh ribu rupiah). Untuk mengikuti lomba ini, cukup kirim tulisan di Dumalana dengan tag “Fiction-Competition”. Informasi selanjutnya bisa dibaca di Ketentuan Lomba.
Jadwal Lomba
Lomba menulis fiksi berlaku setiap periodenya selama 1 bulan dengan selang waktu tiap periode lebih kurang 2 bulan. Total hadiah dimaksud untuk total 5 Periode.
1.    Periode Pertama penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Juli s.d 10 Agustus 2011. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 September 2011
2.    Periode Kedua penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Oktober s.d 10 Nopember 2011. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Desember 2011
3.    Periode Ketiga penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Januari s.d 10 Februari 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Maret 2012
4.    Periode Keempat penulisan Fiction Competition: tanggal 11 April s.d 10 Mei 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Juni 2012
5.    Periode Kelima penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Juli s.d 10 Agustus 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 September 2012
Ketentuan Lomba
·         Lomba terbuka untuk masyarakat umum, jurnalis, mahasiswa/pelajar, penulis, dan penggiat media online. Untuk mengikuti lomba, calon peserta harus memiliki akun Dumalana.
·         Karya lomba tidak melanggar ketentuan tentang SARA dan norma kesusilaan.
·         Karya lomba harus hasil karya pribadi (orisinal), bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide karya yang pernah dibuat.
·         Karya Lomba bersifat baru dan belum pernah ditayangkan di media manapun atau diikutsertakan pada kompetisi lainnya.
·         Karya yang melanggar Ketentuan Umum akan didiskualifikasi dan dinyatakan gugur.
·         Tulisan peserta kompetisi langsung tayang dan bisa dibaca dan ditanggapi di Dumalana.
·         Semua tulisan yang diikutsertakan dalam Dumalana “Fiction-Competition” menjadi milik Dumalana.com
Ketentuan Teknis
·         Peserta telah terdaftar sebagai member Dumalana/Dumalanizer. Peserta yang belum menjadi member bisa mendaftarkan diri secara gratis terlebih dulu di Dumalana.com.
·         Karya lomba ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya bahasa bebas, dengan batas minimal 500 kata.
·         Peserta diperbolehkan mengirim lebih dari satu tulisan
·         Setiap tulisan, meskipun tidak menjadi pemenang lomba, berkesempatan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Dumala Pustaka Publisher dengan ketentuan terpisah.
·         Untuk pemenang tidak dijamin akan diterbitkan dalam buku oleh Dumala Pustaka Publisher.
·         Semua pajak hadiah ditanggung oleh Dumalana.com
·         Semua Keputusan Hasil Penjurian oleh Dumalana.com adalah mutlak. Kami tidak melayani gugatan atau protes dari peserta lomba baik melalui telepon, Fax, SMS, maupun email.
Hadiah
·         Pemenang Pertama Rp 1.000.000. (satu juta rupiah)
·         Pemenang Kedua Rp 750.000 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)
·         Pemenang Ketiga Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah)

_______________________________________
Bagi yang tertarik silahkan baca lebih lengkap di sumbernya di sini.

Good Luck all!! ;)

November 18, 2011

Bikin Peta Sendiri


Iseng-iseng belajar bikin peta dengan AutoREALM.

Well, not bad... :D

Untuk para penulis yang suka gambar-gambar atau yang minat bikin peta sendiri untuk dunia yang kalian ciptakan di dalam buku, bisa download aplikasinya di http://autorealm.sourceforge.net/. Gak rumit sama sekali, sekali pantau langsung bisa deh! Aplikasi yang keren. :D

Dan... tentu saja, Selamat Mencoba! :D

November 17, 2011

Surga Buku : Ghalagramata



Kala matahari membeku tertutup kegelapan panjang, di sana tak ada suara apapun terkecuali semilir angin dingin yang menebar pengap bau darah. Ia melangkah waspada, digenggamnya erat sebuah tongkat kecil yang menyerupai sebuah pena perak berukir wujud burung api yang menyala-nyala merah membara. Dengan langkah-langkah panjang dilewatinya deretan perumahan bernuansa Timur Tengah yang berdiri kokoh berdinding tanah liat merah dihiasi ukiran-ukiran indah aksara arab.
                Dimana jalan pintas itu? Dimana jalan itu?
                Langkahnya menjadi semakin cepat dan cepat ketika di belakangnya kemudian muncul ribuan gagak hitam berkoak ramai, mendobrak keheningan kota dalam sekejap. Sekumpulan burung berbulu hitam dan bermata merah gelap itu semakin mendekatinya, kecepatan terbang mereka lalu mengalahkan kecepatan larinya. Dan terjerembablah ia saat ribuan gagak itu menerkam punggungnya serentak.
                Ia hanya bisa melindungi kepalanya dengan menyembunyikan wajah merapat pada tanah ketika cakar-cakar burung gagak mulai mencabik-cabik mantel yang menutupi punggung dan kepalanya. Pikirnya, jika dia mati di Kota Sarkans maka ini akan menjadi keusilan terakhirnya. Ah, seharusnya ia tak selalu kalah oleh rasa ingin tahunya itu!
                Digunakannya tinta terakhirnya yang tersisa, meski seharusnya tinta terakhir itu ia gunakan untuk membuka gerbang keluar dari Kota Sarkans. Ditulisnya sesuatu kalimat di atas tanah merah itu. στάχτεςτουήλιου, sepotong kalimat yang menyerupai mantra, mantra abu matahari, stáchtestouí̱liou.
                Dua detik setelah itu hujan abu mulai turun dari langit hitam, semakin lama semakin deras. Dan cahaya merah membara kemudian menyeruak di antara ribuan gagak yang mengerumuni tubuhnya, meleburkan ribuan burung bersayap hitam itu di dalam merahnya.
                Seekor burung merak api berukuran sebatang pohon beringin tua melebarkan sayapnya terbang rendah di samping tubuhnya. Bermandikan hujan abu dan sayap burung-burung hitam, ia bangkit berdiri. Mantelnya terkoyak-koyak di bagian punggung, namun penutup kepalanya masih utuh menutupi kepala dan wajahnya. Aman. Si penjaga itu tak akan mengenalinya jika dia datang.
                Ia semakin waspada saat sekumpulan gagak yang masih hidup di hadapannya terbang menjadi satu kumpulan hingga wujud mereka lenyap digantikan tubuh ramping seorang wanita berambut legam, berkulit putih, dan berpakaian hitam-hitam dengan kumpulan kunci aneka warna berkilau tergantung di sebuah cincin besar yang dibawanya.
                Sial! Ia mengumpat. Tak dibiarkannya ada yang mengenalinya, bersamaan dengan merak apinya yang ia tiup hingga mengurai jadi percikan api yang memenuhi seluruh tempat, ia melangkah cepat berlari meninggalkan si wanita berpakaian hitam-hitam itu. Ia tak ingin tertangkap, terlebih oleh si penjaga.

***

“Kau tahu, sejak pagi Noche memeriksa semua daftar nama Chatra yang tidak pulang ke rumah semalam.” Sin melangkah di samping gadis itu menyusuri padang rumput Nardos yang hijau keunguan  seraya menggoyang-goyangkan kuas bergagang kayu miliknya yang sejak dua hari lalu terus menerus hanya mengeluarkan percikan abu biru gelap.
                “Lalu?”
                “Sebaiknya kau tidak menyebut namaku jika tertangkap.”
                Gadis dua belas tahun berambut ikal merah marun itu tersenyum memamerkan dua gigi kelincinya yang menambah manis wajahnya. “Kau takut?”
                Sin menaikkan alisnya. “Tidak,” jawabnya kemudian.
                “Aku kira kau takut.”
                “Tidak!”
                Gadis itu hanya cekikikan. “Hari ini mau main kemana lagi?”
                “Apa?”
                “Karena semalam kau sudah kalah, jadi hari ini aku yang tentukan kita akan main kemana.”
                “Ta, tapi… Noche…”
                Gadis itu menghentikan langkahnya, ditatapnya Sin yang berwajah manis melebihi dirinya. Saudara kembarnya itu harus diajari menjadi seorang pemberani, sebab ia adalah anak laki-laki. “Kau takut?”
                “TIDAK!” Sin berucap pasti.

***

Warna-warna pelangi menghias langit senja saat Sin berpikir haruskah ia menerima tawaran saudara perempuannya itu lagi?
                Sin menggeleng. “Tidak perlu.”
                “Tapi, kau tidak bisa menggunakan kuas yang bulu-bulunya sudah rusak. Jadi pakailah penaku lagi.” Ia menyodorkan pena peraknya yang berukir indah seekor merak.
                Sin menggeleng sekali lagi. “Kuasku masih bisa digunakan.”
                “Baiklah. Ayo kita ke sana!” Ia berjalan mendahului Sin, dan berhenti di hadapan sebuah pintu kayu berkilat-kilat coklat karamel yang sangat besar, menjulang tinggi hingga ke langit yang tertutup awan. Dengan tinta peraknya di dinding pintu diukirnya huruf-huruf yang menyerupai mantra walau sesungguhnya merupakan bahasa biasa di antara para Chatra.
                Dan, pintu tersebut mulai bergeser perlahan. Gemuruh derak pintu bergeser berhimpitan dengan permukaan tanah berbatu dan berdebam kemudian di kedua sisinya saat telah terpentang lebar. Ketika kedua bersaudara itu melintasi pintu dan masuk, kembali tersuguh pemandangan yang tak pernah membuat mereka bosan bahkan—mungkin—untuk seumur hidup mereka.
                Sebuah ruangan seluas lapangan sepak bola bahkan lebih luas lagi terisi rak-rak besar yang menjulang tinggi hingga ke langit yang berwarna pelangi. Lengkingan sekelompok makhluk separuh singa separuh elang terbang melintas di awan, melewati rak-rak yang dipenuhi milyaran buku yang merupakan karya para penulis dari seluruh dunia. Suara-suara ramai saling bersahutan; lonceng angin, rintik hujan, air terjun, dentingan pedang, percakapan-percakapan, serta suara-suara alam dan barang-barang lain yang berdentang, berdering, dan sebagainya. Bau-bauan pun menyengat; aroma laut, aroma makanan lezat, bau busuk, bau darah, bau langit, bau tanah, bau udara seusai hujan, dan bau lain dari berbagai tempat-tempat asing. Dan yang paling kuat terasa adalah pergantian udara; hangat, panas, sangat panas, dingin, bahkan hingga sangat dingin. Segala macam pemandangan sekilas-sekilas melintas di langit tinggi; awan gelap, matahari, angin yang membawa salju, naga-naga yang berterbangan seperti sekawanan burung layang-layang, dan seluruh pemandangan dari negeri yang pernah dituliskan oleh para penulis di dunia.
                Ghalagramata, semacam surga bagi seluruh penggemar buku yang pernah mendatanginya. Sebuah tempat yang berisi buku-buku bernyawa yang dapat dikunjungi oleh pembaca sesuka hati. Perpustakaan maha raksasa ini diperuntukkan bagi para Chatra atau siswa di negeri yang hidup dikarenakan adanya para manusia yang menulis tanpa henti ini, dengan ratusan peraturan yang wajib dipatuhi hanya untuk mendapat izin membaca saja.
                “Ada sebuah buku, karena bahasanya yang rumit semua manusia dunia atas tidak dapat menafsirkannya.”
                Sin mengerutkan dahi. “Buku itu
                Saudaranya mengangguk. “Kita akan membacanya dan mengungkap seluruh isinya!”
                “Apa akan lebih misterius dari buku Sejarah Kota Sarkans?”
                “Tentu saja. Kau pernah dengar Voynich Manuscript kan?”
                Sin menaikkan alisnya. Sesaat ia terdiam sebelum akhirnya berucap, WOW! “Itu buku yang bagus!”

Dari balik mejanya di awan berwarna pelangi, wanita ramping berambut legam itu mengawasi setiap Chatra yang sedang membaca di Ghalagramata. Sebagai penjaga perpustakaan ia tak akan biarkan buku-bukunya rusak. Tak seorang Chatra pun bisa menyelinap dan mengubah isi buku seperti yang terjadi tadi malam, lagi.
                Saat ia menemukan pelaku nakal itu, ia akan segera memberinya hukuman berat.[]
__________________________________________________________________________
Ghalagramata, gudang buku di sebuah negeri perpustakaan bernama Granthalaya.
Dan, begitulah sebagian kecil Surga Buku saya. Dengan konsep bahwa dengan membaca dan menulis kau dapat pergi ke dunia manapun yang kau ingin.
Tak pernah ada cukup kata untuk menjelaskan seperti apa Surga Buku itu....

November 12, 2011

Surgabukuku 1st Birthday Giveaway!

Buatlah cerita pendek maksimal 1000 kata dengan tema: ”Seperti apa sih surga buku dalam versimu?”

Surga Buku ngadain lomba nulis cerpen!!!! Deadline 18 Nopember 2011.

Info lengkap lihat di sini.

Tertarik???? SAYA SANGAT TERTARIK!!!! Ahhhh, bagaimana kabar NaNoWriMo saya???? *JUNGKIRBALIK*


SURGA BUKU.... Ohhhh.... GRANTHALAYA. Kemungkinan akan menuliskan sedikit tentang misteri Granthalaya.

^__________^)9 FIGHT!!! FIGHT!!!


November 08, 2011

NaNoWriMo saya


Kisah yang saya tulis buat NaNoWriMo ini bisa kamu baca di SeparuhDunia.tumblr.com.

Kemalasan melanda, ternyata gak cuma dari belahan Indonesia tapi juga dari para penulis di berbagai negara lain. Ga cuma saya yang terkana virus 0 word per day... huhaha... haiss = =;;

Berharap hari ini semangat hari pertama NaNo kembali ada!!!

SEMANGAT!!! SEMANGAT!!! SEMANGAT SEMUANYA terkhusus buat yang ikutan NANOWRIMO!!!!! SEMANGATTTT!!!! 'O')9

Aksarayana



Halloooo Penggemar Fantasi di Seluruh Indonesia!!!

Kalau kamu ngaku penggemar fantasi dan doyan baca, maka kamu wajib mengunjungi AKSARAYANA.COM!
E-Magz Fantasy pertama di Indonesia!!!

Kumpulan cerpen fantasy yang keren ada di sini, dengan ilustrasi dan layout yang unyu... :D
Meski baru terbit dua edisi tapi gak mengecewakan sama sekali lhoooo.... ^^

Majalah ini bisa kamu download gratis!! GRATIS! Ayo download sebelum ga gratis lagi!!! 'o')9

Buat yang udah download, saya ucapkan selamat membaca dan berfantasi!

^o^)v Salam Fantasy! Cup Cup dikecup meong :3 Ciao!


Kisah Desember saya masuk buku :D


Salah satu cerpen karya saya 'Kisah Desember' yang saya tulis hanya dalam 1 jam saja berhasil masuk dalam buku kumpulan Cerpen dari Nulis Buku 11 Projects 11 Days buku ke 6 ini.

Sempat gak pede dengan tulisan sendiri. Saya pikir gak mungkin deh tulisan saya bakal masuk buku ini, maklum edisi ini bertema 'lagu pilihan', pengirimnya beratus-ratus orang. Dengan cerita saya yang kemungkinan masih ada typo itu... = = saya sangat nggak yakin. Nyaris saya lupakan bahwa saya pernah mengirim karya-karya saya ke Proyek Nulis Buku yang diadakan dalam rangka Ulang Tahun nulisbuku.com ini :)

Tapi... VOILA!!! Ketika saya buka twitter tanpa sengaja melirik bahwa buku ke 6 proyek 11projects11days sudah keluar, dan sewaktu saya liat deretan ceritanya... ^^ nama saya ada di sana!!!
Ahhh, senangnya saat usaha ada hasilnya ^____________^ Senyum saya lebar banget nih. Ihihiii

Buat yang sedang menulis di luar sana, GANBATTE!!! <------------- cuma bisa tereak begitu, apaan sih!

GANBATTE!!!! ' O ' )9

November 01, 2011

NaNoWriMo




Event menulis yang diadakan di bulan November dan telah dimulai 1 November ini.
Event ini diikuti oleh banyak penulis dari berbagai negara di dunia. Just for fun dan untuk belajar mengenai kedisiplinan menulis menurut saya.

Bagi penulis yang tertarik kunjungi aja nanowrimo.org, untuk infonya baca di sini.

Teman baru. Pengalaman baru. Ayo menulis dan bersenang-senang!! :D

And this is my novel for NaNoWriMo :

Amphibian Trial is the story of Sci-Fi Fantasy.

This story shows the setting of an island in the Pacific Ocean, beaches, lighthouses, underwater caves, and of course the sea.

In 1950 Professor Gill stella from Germany suggests that: "If indeed the process that executed the gills and lungs are the same, and if the solution in the water have enough oxygen, then humans must be able to breathe in the water."

And, now experiment of 'human life in the water' is not a mere possibility. This was realized by Dr. Alain Fraun, a wealthy mad scientist. He was ambitious to make the whole world is filled by the ocean.



October 28, 2011

Corat-coret iseng :D

Saya hanya sedikit bosan di kantor dan tangan saya mulai mencorat-coret di paint, dengan mouse yang seadanya.
Coret, coret, coret...
Voila!
Keisengan di saat bosan bisa menghasilkan dua buah gambar... :D

Well, ternyata setelah sekian lama nggak menggambar, saya masih bisa juga membuat yang seperti ini >>

Ahhh, bosannya... :P

Kebosanan hilang kalau melakukan keisengan yang mengasyikkan, mencorat-coret!!

"Ayo corat-coret!!" :D