"If Nothing Ever Changed, There'd Be No Butterflies."

June 18, 2013

LCDP - GEM : 10 of 30


Aku menjerit sejadi-jadinya ketika kutemukan tubuh pucat tak bernapas itu di bawah tempat tidurku saat aku hendak mengambil pinsil yang jatuh bergulir ke bawah ranjang.

“Hey, hey, jangan berlebihan, deh!” Ares muncul di pintu kamarku. Kakak laki-lakiku yang punya hobi koleksi barang antik. “Apa kamu gak pernah lihat mayat? Lagi pula … dia ‘kan sudah hampir dua bulan di kamarmu.”

“Dua bulan di bawah tempat tidurku dan aku tidak tahu?”

“Siapa suruh kamu gak pernah bersih-bersih.”

Aku mendengus. “Itu punyamu?” Aku tidak akan heran.

Ares mengangguk. “Ya. Untuk sementara dia menginap di kamarmu.”

“Kamu pikir kamarku tempat penginapan mayat?”

Ares berkacak pinggang. “Itu jasad Putri Raja dari Kerajaan Shambhala, kamu pikir itu jasad sembarangan apa? Usianya ribuan tahun dan masih utuh. Coba pikir, karena apa?”

“Mana aku tahu.”

“Itulah yang ingin kucari tahu. Jika aku bisa mengungkapkannya, mungkin aku bisa mengungkapkan sejarah dari kerajaan yang hilang itu.”

“Di mana kamu menemukannya? Bagaimana kamu tahu dia dari Kerajaan Shambhala? Mungkin saja tidak! Kembalikan dia!”

“Tim ekspedisiku menemukannya bersamaan dengan gulungan naskah kuno di Siberia Selatan. Mana mungkin kukembalikan ke sana. Terlalu jauh dari pulau kita. Ayah gak akan mau meminjamkan pesawat atau kapal.”

“Terserahlah! Kalau begitu simpan di kamarmu saja!”

“Aku gak boleh membawa perempuan masuk dan tidur di kamarku. Itu peraturan Ayah,” Ares berkata sembari melangkah pergi.

“Ares sialan! Simpan di mana saja di pulau ini! Kita punya pulau yang luas!” jeritku kesal. “Putri Kerajaan Shambhala atau siapa pun. Dia tidak boleh tidur di kamarku!”

Kutatap jasad itu, membujur kaku di lantai, di bawah tempat tidurku. Benarkah usia jasad itu sudah ribuan tahun? Wajahnya tampak masih seperti gadis belia, kulitnya putih mulus tanpa kerut, rambutnya hitam panjang terurai hingga melebihi kakinya. Jasad itu membuatku bergidik. Terutama ketika kemudian tiba-tiba ia menggerakkan kepala dan membuka matanya, memandang ke arahku dengan bola mata legam yang kosong.


GLEKH.


Bersambung ke LCDP - GEM : 11 of 30

LCDP - GEM : 9 of 30


Tergeletak di lantai lift, sebuah buku bersampul hitam bertuliskan Acta dengan sulaman benang perak.

Acta, bahasa Latin dari jurnal atau buku harian. Mungkin milik salah seorang siswa atau guru sekolahku. Kubuka sampul buku, tampak layar sentuh 7 inci di balik sampul itu. Buku harian elektronik. Tidak bisa dibuka. Terkunci dengan kata sandi.

“Milik siapa ini?”

Sebaris kalimat tiba-tiba muncul di permukaan layar.  [NAITO]

Aku mengernyit. “Naito? Siapa Naito?”

[NAITO]
[Siswa Sekolah Khusus Anak Bumi Berbakat ‘UMBRA’]
[Kelas 12]
[Penyandang nilai terbaik di pelajaran Praktek Ilmiah]

“Siswa sekolah ini rupanya. Aku gak kenal, tuh,” ujarku. “Seperti apa rupa Naito itu?”

Layar tujuh inci itu lalu mengeluarkan kilau cahaya hijau yang berhamburan ke udara. Detik berikutnya cahaya itu menyatu, mewujud dalam bentuk seorang manusia. Sosok hologram itu berdiri di depanku dalam ukurannya yang sebenarnya, pria bertubuh tinggi mengenakan celana jins dan jaket kulit hitam. Rambutnya abu-abu gelap senada dengan warna matanya, kulitnya putih dan ia tampan.

DIA?!

Buku harian elektronik itu jatuh dari tanganku menabrak lantai lift. Bersamaan dengan itu cahaya hologram yang membentuk sosok manusia itu buyar, berhamburan di udara dan lenyap.

Aku kenal siapa pria itu!

Pintu lift bergeser dan membuat perhatianku teralihkan. Seorang pria muncul dari balik pintu lift itu.
Ia menatapku sekilas, lalu mengambil buku harian elektronik yang tergeletak di lantai lift. “Punyaku,” ujarnya singkat. Ia masuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup kembali. Ia menoleh ke arahku yang masih bergeming. “Wajahmu kenapa? Hasil percobaan ilmiah yang gagal? Atau berhasil?” Tampak ia menahan tawa.

Aku tak menjawab. Dia tidak mengenalku karena bentukku sedang tidak dalam rupaku yang sebenarnya. Efek apel yang kumakan di rumah kaca sekolah membuatku tidak mirip manusia sekarang.
Aku berdiri kaku di sebelah pria yang pernah mencoba untuk melenyapkanku. Si pembunuh bayaran antar waktu yang kupikir sudah mati.


***

Bersambung ke LCDP - GEM : 10 of 30

June 15, 2013

LCDP - GEM : 8 of 30



Ujian Teleportasi hari ini kulewati dengan mulus. Kemampuanku sudah lumayan, setidaknya aku sudah bisa melakukan lompatan dengan benar ke tempat yang kuinginkan.

Setelah melakukan teleport aku selalu merasa kelaparan. Teleport selalu menguras energi. 
Aku mengelus perut sembari melangkah memasuki rumah kaca yang terletak di lantai enam gedung sekolah. Banyak yang bisa di makan di sini. Segala macam buah-buahan dan sayuran ada dalam bentuk dan rupa yang terbilang unik, semuanya adalah tumbuhan hasil penelitian para siswa.

“Ingin mencoba satu?” Seorang perempuan tua kurus dan jangkung, berambut putih dan berpakaian hitam-hitam muncul dari balik rak tanaman buah-buahan. Ia membawa keranjang berisi beberapa macam buah-buahan. Disodorkannya sebuah padaku.

Apel yang merah dan besar. Aku mengambil dan melahapnya tanpa berpikir. “Terima kasih.”

“Bagaimana rasanya?” Perempuan tua itu bertanya.

“Manis.”

Perempuan tua itu mengernyit dan menggeleng-gelengkan kepala. “Ah, ekperimen kali ini gagal lagi.”

“Hah?”

“Jangan khawatir, efeknya hanya dua puluh empat jam,” ia berkata sembari melangkah meninggalkanku, keluar dari rumah kaca.

“Apa? Efek apa?” Aku melangkah mengejarnya. Dan ketika sampai di depan pintu rumah kaca, aku tahu apa maksudnya.

Di kaca itu tampak bayanganku yang tak seperti aku. Ada moncong seperti rusa, sepasang mata besar seperti kucing, sepasang telinga runcing, di rambutku yang pendek coklat terang tampak mencuat sepasang tanduk berbentuk lingkaran, dan warna kulitku yang sawo matang berubah putih mulus seperti salju.


Aku mengerutkan dahi. “Hey, aku berubah jadi ... keren!”


Bersambung ke LCDP - GEM : 9 of 30


_____________________________________________________________________________________
Yang suka menulis atau membaca segala yang berbau fantasi, yuk gabung ke Le Chateau de Phantasm! \(^0^)/

June 14, 2013

LCDP - GEM : 7 of 30



Pagi-pagi sekali aku sudah duduk di sofa depan tivi. Bukan untuk nonton acara kegemaranku, melainkan untuk disidang oleh Ayah.

Menyebabkan kaca jendela lantai dua pecah semua, meledakkan kamarku sendiri, menyimpan mayat manusia serigala di halaman. Segala tuduhan tertuju kepadaku tanpa dapat kubantah.

Sidang berakhir dengan sebuah hukuman, karena aku mengakui kesalahan maka aku hanya dihukum memberi makan ayam sebelum berangkat ke sekolah setiap hari dalam sebulan.

Hanya memberi makan ayam? Padahal aku berharap Ayah akan memberi hukuman yang lebih menantang.

Ketika aku melangkah keluar rumah, Ares―kakakku―melewatiku dengan tubuh berkucuran keringat. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaan paginya di peternakan. “Ambilkan jam tanganku yang tertinggal di lumbung!” perintahnya. “Jangan mengurusi yang lainnya kecuali ayam!” tambahnya lagi sembari melangkah memasuki rumah.

Aku mengkerucutkan bibir. Ayah dan Ares memang tidak pernah mempercayaiku dalam segala hal, sebab mereka selalu berpikir kalau aku adalah sumber kekacauan dunia seolah semua yang kulakukan akan berakhir menggemparkan.

Aku berlari-lari kecil melintasi jalan setapak berkelok yang diapit pepohonan, menuju lumbung yang letaknya tiga ratus meter di seberang rumah kami.

Sebuah lumbung tua yang sangat besar dikelilingi pepohonan, berdinding kayu dengan kincir besar di atap yang tak berfungsi lagi. Di sini Ayah menyimpan berbagai macam makanan ternak kami. Ketika aku memasuki lumbung, segera tercium aroma yang campur aduk. Suasana sepi, hanya gesekan sandal dengan lantai yang terdengar berdetap-detap.

Di mana Ayah menyimpan pakan ayam? Dan di mana jam tangan Ares? Aku menoleh ke kiri dan kanan. Beberapa rak berderetan di kanan dengan kotak-kotak kayu besar di setiap barisnya terjejer rapi lengkap terselip semacam kartu yang bertuliskan nama pakan di dalam kotak beserta jumlahnya secara rinci. Sementara di sebelah kiri ada jerami yang ditumpuk tinggi-tinggi dan ember-ember besar tertutup rapat yang diberi nama-nama.

Ketika kuhampiri salah satu ember besar yang bertulis pakan ayam, aku melihat sesuatu berjalan keluar dari belakang tumpukan jerami. Sosok berlidah panjang dengan ujung lidah menyerupai ular, mendesis menatapku dengan sepasang mata merah menyala. Deret gigi runcing yang panjang dan besar tampak ketika ia membuka mulutnya, nyaris serupa kangguru dengan kaki belakang lebih panjang dari kaki depan, berkulit kasar dengan duri-duri panjang seperti kipas di sepanjang tulang belakang, dan dia berbau belerang.

Aku mundur perlahan, lalu berbalik lari keluar lumbung sekencang-kencangnya. “AREEEEESSSS!!! CHUPACABRA ITU LEPAS DARI KANDANG!” Aku berteriak lantang.

Dalam sekali lompat, makhluk itu telah muncul di depanku. Membuatku kaget dan terjengkang. Dan sebelum aku sempat menghindar, Chupacabra itu bergerak menerkam.

Ini adalah alasan lain mengapa Ayah dan Ares tak membiarkanku mengurus peternakan kecuali bagian kandang ayam. Terlalu berbahaya. Kami tak hanya punya satu Chupacabra, kami punya banyak yang seperti dia. Kami juga punya yang lainnya, enam ekor Unicorn, seekor Grifin, empat ekor Naga dan seekor Chimaera. Semuanya dibiarkan tetap pada naluri aslinya yang liar.

Tak asing semua itu di peternakan kami, para pemburu makhluk mitologi.


Bersambung ke LCDP - GEM : 8 of 30



_____________________________________________________________________________________
Yang suka menulis atau membaca segala yang berbau fantasi, yuk gabung ke Le Chateau de Phantasm! \(^0^)/

June 13, 2013

LCDP - GEM : 6 of 30



Aku ingin melarikan diri dari pria itu. Aku mencoba melakukan lompatan, melakukan teleport dan berpindah ke tempat yang lain. Namun usahaku sia-sia. Meski aku mencoba lari dan mengirim tubuhku ke tempat yang lain, ia tetap saja mengikuti. Tangannya tak melepas belati yang ia tusukkan di dadaku.

Senyumannya tampak mengerikan meski itu berasal dari wajah tampan. “Kamu pikir bisa melarikan diri?” ucapnya.

Aku merasa tubuhku melayang di udara, lalu jatuh. Kali ini aku tidak jatuh di tempat yang membuat tubuhku kesakitan, namun tetap saja seluruh tubuhku sakit luar biasa akibat belati yang tertancap di dada. Aku tak bisa berkata-kata, rasa sakitnya membuatku ingin mati saja segera.

Air mataku keluar tanpa terasa. Darahku keluar tak berhenti. Anyir menusuk hidungku hingga tenggorokan, membuatku sesak.

“Jangan khawatir, kamu tidak akan mati sendirian di sini,” pria itu berkata lagi.

Dia benar. Kusadari kemudian bahwa aku tidak sendiri. Di sekitarku, dalam jalur pandangku tampak tubuh-tubuh berserakan, ada yang telah jadi tulang, ada pula yang masih tampak kulitnya yang digerogoti ulat-ulat dan beberapa dikerubungi lalat. Pun cairan merah yang kering dan basah lengket di tubuh-tubuh itu hingga di tanah kuning sekitarnya.

Di mana aku?

Dinding tanah liat tampak tinggi. Di atas sana bulan tampak besar di langit hitam. Sepertinya aku di sebuah lubang. Mungkin lubang pemakaman karena banyak mayat bergelimpangan.

Jika aku mati di sini, maka ini akan menjadi terakhir kalinya aku melakukan teleportasi bodoh ini. Dan ketika kupikir aku akan mati, suara tembakan terdengar, letusannya nyaris membuatku tuli.

Lalu, dari kepala pria itu cairan merah keluar, jatuh mengenai dahiku. Kemudian pria itu roboh ke samping. Dia tak bergerak lagi.

Dengan kekuatan yang masih tersisa aku meraih belati yang menusuk di dadaku dan menariknya keluar. Nyeri yang luar biasa menghantam sekujur tubuhku, dan aku tak sanggup menggerakkan diri meski hanya jari-jari.

Di ujung dinding tanah liat di atas sana, samar tampak seseorang berdiri dengan tangan memegang revolver perak. Dia melompat dari tempatnya berdiri hingga menjejak di dekatku.

Bukan pria yang asing. Entah aku harus bersyukur atau tidak. Dia adalah Marc, si pemburu bayaran, musuhku di sekolah.

Dia tersenyum. “Kelihatannya kamu baru saja berutang padaku.”

Sial! Aku tidak pernah mau utang budi pada siapa pun. Apa lagi dia.


Bersambung ke LCDP - GEM : 7 of 30

_____________________________________________________________________________________
Yang suka menulis atau membaca segala yang berbau fantasi, yuk gabung ke Le Chateau de Phantasm! \(^0^)/

June 12, 2013

LCDP - GEM : 5 of 30

Lompatan yang paling bodoh, meski bukan yang paling menyakitkan. Aku melakukan teleport ke halaman rumah dan terjerembab ke dalam selokan. Bodoh sekali kan? Kenapa aku tidak melakukan lompatan lebih jauh. Sialan!

Suara jendela kaca yang pecah terdengar kemudian. Aku mendongak dan kulihat kaca jendela kamar lantai dua berhamburan ke udara disusul suara menggelegar dari dalamnya.

Lalu, dari jendela yang hanya menyisakan kerangka menerobos keluar sosok manusia serigala. Tubuhnya melesat di udara, lalu jatuh tepat di depanku dengan suara berdebam keras.

Aku meneguk ludah. Beberapa saat aku bergeming menatap tubuh besar berbulu yang tak bergerak itu. Apakah dia mati? Tubuh itu tak bergerak sama sekali.

Aku tak peduli!

Aku melompat keluar dari dalam selokan. Kakiku terasa berdenyut-denyut di atas kerikil ketika melangkah melintasi halaman rumah. Dan langkahku terhenti. Karena sosok asing di depan pintu rumahku.

Sosok yang diterangi cahaya bulan, seorang pria mengenakan celana jins dan t-shirt hitam. Ia berdiri tegak di ambang pintu yang terbuka lebar, tangan kirinya menggenggam sebilah belati berkilau keperakan yang berlumuran darah. Rambutnya abu-abu tua senada dengan warna matanya, kulitnya putih dan dia lumayan tampan.

Dia bukan Ayah atau kakakku. Siapa dia?

Aku terdiam di tempatku. Waspada. “Siapa?” tanyaku.

Pria asing itu bergerak, melangkah maju menuju ke arahku. Lalu ia melempar sesuatu kepadaku.

Kutangkap benda itu. Sebuah kota kayu yang kutahu berasal dari kamarku. Aku menautkan alis.

“Haruskah kamu melempar portal ke arah manusia serigala? Apa itu karena kamu tahu aku akan keluar dari sana?” si pria asing berkata.

“Portal … apa?” Aku tidak mengerti.

“Portal ruang waktu,” jawabnya.

Aku semakin tidak mengerti. “Kamu ... siapa?”

Pria asing itu mengangkat belati ke udara. “Seseorang yang dibayar untuk melenyapkanmu.”

Aku terkejut saat tiba-tiba belati itu ia hujamkan ke dadaku dan cairan merah merembes keluar dari kulitku. Kenapa seorang pembunuh bayaran antar waktu mau melenyapkanku?


Bersambung ke LCDP  - GEM : 6 of  30


_____________________________________________________________________________________
Yang suka menulis atau membaca segala yang berbau fantasi, yuk gabung ke Le Chateau de Phantasm! \(^0^)/

LCDP - GEM : 4 of 30

Aku beku di ambang pintu dapur itu. Tatapanku dan manusia serigala itu bertemu. Tanpa banyak berpikir aku berbalik dan lari. Sekencang kencangnya hingga kakiku sakit. Si manusia serigala tidak tinggal diam. Ia melompat di belakang, suara napasnya yang berat dan geramannya yang mengancam terdengar jelas di telingaku seolah ia hanya satu senti dari tengkukku.

Aku ingin berteriak, memanggil Ayah atau kakakku, tapi suaraku tenggelam di tenggorokan dan hilang. Aku hanya berlari dan berlari hingga sampai di depan pintu kamar, memasuki kamar secepatnya, mengunci pintu dan―

GABRUKH!!

Aku menginjak buku di lantai dan jatuh tersungkur. Aku lupa kalau itu sakit. Aku beranjak lagi dengan cepat, mengacak isi laci meja belajar, mencari ponsel. Aku harus memanggil bantuan. Menelepon Ayah atau Ares yang mungkin sedang tidur lelap di kamar mereka masing-masing.

Suara gebrakan di pintu kamar membuat jantungku berdebar keras dan keringatku mengucur. Di mana? Di mana ponselnya?

Kuangkat selimut dan bantal dari atas tempat tidurku, kujatuhkan semuanya ke lantai, mungkin ponsel itu ada di bawah selimut atau bantal. Namun tidak ada jejak ponsel itu di sana. Hanya ada sebuah kotak, kubus kecil, hitam berkilat dengan sisi-sisi yang berukir indah aksara tak kukenal, tergeletak di ujung tempat tidur.

Benda apa itu? Sepertinya bukan milikku. Mungkin milik kakakku yang hobi koleksi barang antik.

Aku merangkak ke ujung tempat tidur, mengambil kotak kayu itu. Benda antik yang cantik. Tapi bukan ini yang sedang kucari!

GUBRRAKH!

Pintu kamarku terlepas dari engselnya dan jatuh menabrak lantai. Manusia serigala itu di depan pintu berdiri menatap ke arahku dengan mata kuning bercahaya. Kemudian ia melakukan satu lompatan, langsung melesat ke arahku yang masih tergugu.

Spontan kulempar benda di tanganku ke arahnya dan menutup mata.

Apa aku harus melakukan lompatan lagi, meski teleportasi akan membuatku terjebak ke tempat yang entah di mana? Jadi, bagaimana? Bagaimana ini?


Bersambung ke LCDP - GEM : 5 of 30


_____________________________________________________________________________________
Yang suka menulis atau membaca segala yang berbau fantasi, yuk gabung ke Le Chateau de Phantasm! \(^0^)/

LCDP - GEM : 3 of 30


Aku jatuh menabrak benda keras yang sukses membuatku mengerang. Lumayan sakit. Apa lompatan kali ini berhasil membawaku kembali pulang?

Masalahnya aku masih belum bisa melakukan lompatan yang benar. Karenanya aku masih sering nyasar. Teleportasi adalah pelajaran tersulit di kelas, menurutku. Lain kali aku nggak akan latihan teleport di tengah malam lagi, mungkin nanti kucoba pagi hari saja.

Aku mengangkat kepala dan menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Remang-remang, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamar. Tapi kupastikan kini aku sungguh telah berada di tempat yang benar. Di rumahku. Di kamar tidurku yang lantainya khas berserakan lembaran kertas sketsa dan buku.

Aku menghela napas. Sangat lega. Aku pulang! Aku berhasil pulang!

Aku tak mampu melompat-lompat meski aku sedang girang. Latihan teleportasi menguras energi. Aku merasa lapar sekarang.

Segera aku bangkit menuju pintu kamar. Lalu mengendap-endap tanpa suara aku menuruni tangga, tak ingin ada orang rumah yang terbangun karenaku. Kulalui ruang tengah yang sepi dan terang benderang. Saat itulah kudengar sebuah suara dari arah dapur yang gelap. Suara napas berat yang entah milik siapa.

Apa Ayah di sana? Ataukah kakak laki-lakiku, Ares?

Senyuman jahilku mengembang. Aku melangkah diam-diam, berniat memberi kejutan.

“DOORRR!!!” teriakku kencang.

Dan, sosok di samping lemari makanan itu berbalik. Dengan cahaya dari ruang tengah sosok itu dapat terlihat cukup jelas. Bertubuh tinggi sedikit bungkuk, berbulu di sekujur tubuh dan memiliki sepasang mata yang terang keemasan.

Dia ….

Manusia serigala!

Apa dia mengikutiku saat kulakukan teleport kembali ke sini? Oh, tidak! Tidak! Tidak!


Bersambung ke LCDP - GEM : 4 of 30


_____________________________________________________________________________________
Yang suka menulis atau membaca segala yang berbau fantasi, yuk gabung ke Le Chateau de Phantasm! \(^0^)/

LCDP - GEM : 2 of 30

Terbangun oleh suara angin yang memukul dedaunan. Kudapati tanah lembab di bawah kulit wajahku.

Rasanya aku baru saja mendapatkan mimpi buruk. Ketika sedang belajar melakukan teleport aku tersesat entah ke mana dan tiba-tiba tertembak berondongan peluru senjata mesin di tempat asing yang putih-putih oleh para pasukan asing berjirah yang menunggangi kuda bertanduk. Tapi tentu saja itu bukan mimpi.

Aku bangkit berdiri. Tubuhku terasa berat sekali. Aku belum mati karena aku masih dapat merasakan sakit di telapak tanganku yang mengeluarkan cairan merah. Jari kelingkingku putus, itu sebabnya.

Aku segera menahan napas ketika kudapati seluruh pakaianku sobek-sobek dan warna darah membasahinya. Tapi aku tidak apa-apa, tidak ada yang luka ketika kuperiksa seluruh tubuhku, kecuali kelingkingku yang putus dan ... kini tumbuh kembali!

Aku menghela. Nilai pelajaran Rapid Cellular Regeneration atau kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri yang diberikan kepadaku adalah yang tertinggi di kelas. Aku nyaris melupakan itu.

Kutatap sekeliling. Sepertinya aku kini berada di hutan. Aku melakukan lompatan ke sini saat aku tertembak tadi. Di mana ini? Gelap, sedang malam hari di sini. Cahaya bulan yang menembus celah ranting dan daun adalah satu-satunya penerangan. Di mana-mana hanya ada pohon, beberapa ada yang berdaun dan tidak. Aku beranjak dari tempatku, mungkin ini hutan di dekat rumah. Aku hanya tinggal berjalan keluar dan pulang kali ini. Aku tak mau ambil risiko melakukan teleport dan terlempar entah ke mana, lagi.

Dan, suara itu terdengar di telingaku. Geraman liar yang berat dan mengancam. Ramai. Apa jumlah mereka banyak?

Aku segera mendapat jawaban ketika mereka keluar dari bayang pepohonan. Menampakkan sosoknya yang tinggi, berbulu di seluruh tubuh, bermata keemasan dengan moncong yang menyeringaikan deretan gigi tajam. Mereka sepertinya kelaparan, karena kemudian mereka melompat ke arahku sembari memamerkan cakar-cakar yang menyatakan mereka siap untuk makan!

GLEKH! Hutan apa yang didiami begitu banyak manusia serigala? Ah, sial! Aku harus melakukan lompatan lagi untuk kembali ke rumah. Kali ini tidak boleh salah.


Bersambung ke LCDP - GEM : 3 of 30


_____________________________________________________________________________________
Yang suka menulis atau membaca segala yang berbau fantasi, yuk gabung ke Le Chateau de Phantasm! \(^0^)/

LCDP - GEM : 1 of 30


Tampaknya aku berhasil kali ini. "Yess!!!" Aku melompat girang. Ujian teleportasi esok kupastikan tidak akan gagal. Aku sudah berhasil pindah jauh sekali hingga ke Antartika, atau mungkin Artik? Salju putih di mana-mana, tidak ada apa-apa kecuali warna putih yang menebar dingin. Sudah cukup. Aku harus pulang sekarang, atau aku akan mati kedinginan.

Dan, ketika aku hendak melakukan teleport untuk kembali ke rumah, terdengar suara di belakangku. Aku menoleh. Segera tubuhku membeku. Entah mereka datang dari mana, tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai penghuni Kutub Utara atau Kutub Selatan seperti yang dituliskan di buku-buku yang pernah kubaca.

Mereka satu-persatu muncul dari balik udara, menunggangi kuda putih bertanduk, masing-masing mengenakan baju jirah dari baja yang mengkilat, di tangan masing-masing mengangkat senjata mesin yang diarahkan kepadaku.

"Maaf, saya datang dengan damai," aku harap mereka paham. Sebab aku segera tahu aku tidak berada di Kutub Utara atau Selatan. Aku bahkan tidak mungkin di Bumi sebab langit di Bumi tidak memiliki bulan berwarna merah berjumlah empat di langit yang keunguan.

Aku telah melakukan lompatan sangat jauh dari rumah! Dan sekarang berondongan peluru melesat menghujaniku!

Tidak mau tahu siapa mereka dan di mana aku saat ini, aku hanya ingin melakukan satu lompatan untuk kembali pulang. Namun tubuhku terlalu berat untuk digerakkan. Peluru-peluru tajam melesat menembus kulitku mengalahkan kecepatan gerakku, aku tumbang bersamaan dengan seruan-seruan asing yang perlahan padam.


Bersambung ke LCDP - GEM : 2 of 30


_____________________________________________________________________________________
Yang suka menulis atau membaca segala yang berbau fantasi, yuk gabung ke Le Chateau de Phantasm! \(^0^)/

June 01, 2013

Lomba Novel Bunyan Bentang 2013

Sayembara Menulis Novel Islami Bunyan-Bentang Pustaka 2013
Halo pembaca buku Bentang!
Apa kamu suka menulis novel Islami? Apa kamu pernah bermimpi mendapat banyak hadiah dan tulisanmu diterbitkan? Sekarang saatnya mewujudkan mimpimu, ayo ikutan Sayembara Menulis Novel Islami Bunyan-Bentang Pustaka 2013! :D

Sayembara Menulis Novel Islami Bunyan-Bentang Pustaka 2013
Tema: Seribu Wajah Muslimah
Syarat dan Ketentuan: 
  • Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia sepanjang minimal 150-250 halaman A4, 1,5 spasi menggunakan font Times New Roman ukuran 12 pt.
  • Naskah merupakan karya orisinal, bukan terjemahan, saduran atau jiplakan.
  • Naskah mengandung nilai-nilai Islam universal yang toleran, penuh cinta kasih, anti-kekerasan dan inspiratif.
  • Naskah TIDAK mengandung kebencian, dogma, isu SARA dan pornografi.
  • Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak maupun online, dan tidak sedang mengikuti sayembara sejenis.
  • Naskah dikirim ke alamat:
bunyan.bentang@mizan.com
atau ke:
Redaksi Fiksi Bunyan
Jl. Kalimantan G-9A
Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta


Tuliskan [FIKSI BUNYAN] Judul Naskah (garis miring) Nama Penulis
di pojok kiri atas amplop atau di subjek email.
  • Lampirkan:
- Sinopsis naskah
- Biodata dan profil lengkap penulis
- Kartu identitas diri (KTP/SIM/Paspor)
- Formulir pengiriman naskah (bisa di unduh disini)
  • Satu email/ amplop hanya boleh berisi satu naskah beserta lampiran lengkap. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah dalam email/amplop terpisah.
  • Naskah ditunggu paling lambat 30 Juni 2013.
  • Pemenang akan diumumkan melalui facebook, twitter, blog dan website Bentang Pustaka pada pada bulan Juli 2013.
  • Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Hadiah
Juara 1
uang tunai sebesar Rp 5.000.000 + tablet PC + paket buku dan merchandise dari Bentang Pustaka senilai Rp 300.000 + kontrak penerbitan buku
Juara 2
uang tunai sebesar Rp 3.000.000 + tablet PC + paket buku dan merchandise dari Bentang Pustaka senilai Rp 300.000 + kontrak penerbitan buku
Juara 3
uang tunai sebesar Rp 2.000.000 + tablet PC + paket buku dan merchandise dari Bentang Pustaka senilai Rp 300.000 + kontrak penerbitan buku

10 naskah pilihan akan mendapatkan paket buku dan merchandise dari Bentang Pustaka senilai Rp 300.000 + kontrak penerbitan buku


Merasa tertantang? Yuk kirim naskahmu sekarang juga! Kami tunggu ya! :D


Warm regards,
Bentang Pustaka

———————————————————————————————
Frequently Asked Question (FAQ)
- Apakah satu naskah boleh ditulis oleh dua orang?
+ Boleh :)
- Apakah tokoh utama dalam novel boleh bukan orang Indonesia
+ Boleh, tapi sebaiknya tetap ada kaitannya dengan Indonesia supaya lebih dekat dengan pembaca:)
- Kalau naskahnya kumpulan cerpen apakah boleh juga diikutkan sayembara ini?
+ Maaf, naskah untuk sayembara ini harus berupa novel
- Kalau naskah yang diikutkan lomba tidak jadi pemnang apakah naskah bisa ditarik kembali?
+ Bisa :)
+ Segmentasi pembacanya dari umur berapa?
- 20-39 tahun
+ Tokoh utamanya harus perempuan ya?
- Tokoh utama tidak harus perempuan, tapi mengangkat tema besar mengenai perempuan muslimah
+ Bisa diperinci lagi gambaran cerita yang diharapkan dari tema seribu wajah muslimah?
- Cerita mengenai lika liku kehidupan muslimah yang kritis dan tangguh menjalani hidup dengan tetap memegang teguh nilai-nilai islam